• Maret 18, 2024

Sistem Pendidikan Kuno Ini Masih Relevan dengan Siswa Milenial

Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) meyelenggarakan seminar Sosialiasi Industri 4.0 dan Pelatihan Pembelajaran Inovatif di SMA Negeri 1 Purwosari, Pasuruan, Rabu (13/2/2019). Acara ini kerja sama dengan Musyawarah Guru Mata Pembelajaran (MGMP) bidang Ekonomi.

Acara pertama ditandai penandatanganan MoU antara FEB Umsida dengan MGMP Ekonomi Pasuruan untuk kerja sama berkelanjutan. Seminar ditiru 30 guru mata pembelajaran Ekonomi tingkat SMA/SMK/MA/ yang terdaftar sebagai anggota MGMP Bidang Ekonomi Pasuruan.

Dr Sigit Hermawan, dekan slot spaceman FEB mengatkan, acara ini realisasi program kerja yang telah diwujudkan. Secara dalam bidangan pengabdian terhadap masyarakat sekaligus mempromosikan Umsida di SMAN 1 Purwosari.

Hadir sebagai pembicara pertama Rizky Eka Febriansah SMb MSM, dosen Umsida dan ketua Tim Abdimas MGMP FEB Umsida. Pembicara kedua Ifta Zuroidah SE MM, dosen Umsida dan guru SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo.

Rizky menyajikan, tantangan era revolusi industri 4.0 yaitu perubahan pola pikir dan perilaku dalam berkompetisi mengembangkan kreativitas. ”Tantangan di era revolusi industri 4.0 berupa perubahan dari pola berpikir serta cara berperilaku individu dalam mengembangkan penemuan kreatif kreatif,” katanya.

Pengaruh era industri 4.0, sambungnya, dapat menghilangkan sekitar 1 juta sampai 1,5 juta profesi dalam kurun waktu 10 tahun sebab adanya peran substitusi manusia dengan mesin. Ia menambahkan, 65% murid usia sekolah di dunia akan berprofesi pada profesi yang belum pernah ada ketika ini.

Pembicara kedua Ifta Zuroidah membagikan tips dan trik pembelajaran inovatif di hadapan peserta. Salah satu tips yang dikasih yaitu cara pembelajaran yang kuno. ”Sistem kuno melainkan masih relevan untuk siswa milenial yang tak menyenangi membaca yaitu cara jigsaw. Melainkan tak diaplikasikan keseluruhan,” ujarnya.

Iftah menerangkan, pelaksanaan cara jingsaw yaitu siswa dalam kelas dibagi menjadi klasifikasi. Kemudian guru memberikan materi pada setiap klasifikasi dengan topik yang berbeda. Selanjutnya setiap klasifikasi mempresentasikan materi yang telah pelajari ke klasifikasi lainnya. Golongan ini meneruskan ke klasifikasi selanjutnya. Golongan terakhir menyajikan ke guru.

”Dengan pemakaian cara ini siswa yang mulanya malas membaca menjadi rajin membaca dan materi pembelajaran dapat tersampaikan secara tuntas,” tuturnya.

Ketua MGMP Winardi SPd mengatakan, acara ini sebagai wadah menjalin silaturahmi antar guru. Harapannya ada tindak lanjut mengenai MoU yang telah dilakukan. ”Absensi FEB membawa manfaat besar untuk MGMP,” tandasnya.