• Januari 11, 2024
Heavier than Heaven

(REVIEW BUKU) Heavier than Heaven: Kehidupan Kurt Cobain yang Ditulis bak Novel

Selasa, 5 April 1994, Kurt Cobain terbangun di area tidur rumahnya menjelang terang tanah. Dia mengenakan kaus bergambar Half Japanese (band punk dari Baltimore), dan celana jins Levi’s, dan sepatu Converse.

Sambil duduk di ujung area tidur, Cobain menulis surat paling akhir untuk Courtney Love, istrinya. Dia udah menyiapkan segalanya, layaknya udah direncanakan secara matang jauh-jauh hari.

“Dia mengambil alih senapannya link alternatif sbobet yang berat, meletakkannya sedemikian rupa menghadap langit-langit mulutnya. Ini dapat terlampau keras; dia yakin itu. Kemudian dia pergi,”

Demikian Charles R. Cross menutup kronik hidup pentolan Nirvana, Kurt Cobain di dalam Heavier than Heaven.

Pada anggota ini, Cross melukiskan detik-detik mencekam yang dilewati Cobain secara begitu detail, lebih-lebih menghabiskan delapan halaman untuk mengajak pembaca berkhayal keadaan pas itu kalian dapat membaca buku ini sambil bermain https://www.smkbintangcendekia.com/.

Ditulis layaknya novel

Penggambaran demikianlah teliti biasanya cuma kami dapatkan di dalam novel. Namun, ini bukanlah fiksi, melainkan kisah nyata. Cross menghabiskan pas 4 th. dan 400-an wawancara untuk beroleh gambaran paling utuh sosok Kurt Cobain.

Dia meneliti begitu banyak dokumen di di dalam lemari arsip dan ratusan rekaman lagu, serta menempuh berkilo-kilometer perjalanan bolak-balik pada Seattle dan Aberdeen, kota kelahiran Cobain.

Fakta-fakta yang dia kumpulkan itu lantas disusun rapi sampai menjadi cerita yang hidup layaknya novel. Yang tersaji di di dalam Heavier than Heaven bukan sekadar kisah hidup subjek yang secara rangkaian menceritakan kelahiran, tumbuh dewasa, sampai ajal menjemput.

Lebih dari itu, Cross mengajak pembaca larut di dalam naik turunnya emosi dan pergulatan hidup Cobain. Dalam perihal ini, sang penulis tampaknya mengerti apa yang ada di belakang kepala subjeknya. Cobain seolah-olah menjadi tokoh utama sebuah novel yang kisahnya dikendalikan oleh Cross.

Cross lebih-lebih udah memilah fakta, kebohongan, dan rumor. Dia tidak rela kami sibuk mengurusi kontroversi dan beraneka versi cerita, terhitung yang mampir dari mulut Cobain sendiri: membeli gitar pertama usai menjual senapan pacar ibunya maupun sempat tidur di kolong jembatan, misalnya.

Dua cerita itu pun Cross uji kebenarannya. Dia lantas menentukan kisah-kisah tersahih berdasarkan fakta yang didapatkan di lapangan. Pilihannya itulah yang lantas kami baca bersama begitu hidup di dalam buku biografi ini.

Menjawab tuduhan hoaks

Lantaran penggambaran yang kelewat teliti itu, edisi pertama Heavier than Heaven (Hyperion, 2001) malah dituduh menyebarkan hoaks. Cross mengatakan, tidak benar satu reaksi publik usai bukunya terbit, ia dituding mereka-reka moment paling akhir hidup Kurt Cobain.

Cross pun membantah tudingan itu di dalam kata pengantar baru untuk edisi 2014 (yang diterbitkan KPG merupakan edisi 2014—red.). Dia tunjukkan bahwa seluruh fakta udah di check sebelum terasa menyusun biografi tersebut, terhitung membaca laporan investigasi pihak kepolisian.

Pada kata pengantar edisi 2014—andai bukunya ditulis ulang—Cross mengungkapkan bahwa ia dapat mengawali biografi ini bersama membeberkan moment dikala beroleh dokumen teristimewa punya Kurt Cobain dan Courtney Love yang disimpan di lemari usai sang musisi tewas dan baru diakses dikala hendak diteliti.

Tudingan lain, Heavier than Heaven disebut sebagai biografi yang direstui Love. Indikasinya, buku ini tidak menyinggung desas-desus yang menyebut Cobain tidak laksanakan bunuh diri, melainkan dibunuh dan Love adalah dalangnya.

Cross membantah bahwa bukunya direstui pihak mana pun. Malahan, Love tidak menyukai sebagian perihal khusus yang disuguhkan di dalam Heavier than Heaven. Di peluang lain, di dalam majalah musik Q terbitan Inggris, edisi khusus 50 th. rock ‘n roll (1954–2004), Cross mengesampingkan teori konspirasi kematian Cobain.

Setelah menghabiskan 4 th. untuk meneliti tiap-tiap segi kehidupan Cobain, dia mengatakan, “Jika ada sebuah bukti yang mampu meragukan perihal kematiannya, aku tentu orang yang pertama menuliskan dan memegang teguh fakta itu.”

Faktanya pula, layaknya dimuat biografi tersebut, Kurt Cobain bukan sekali itu mencoba bunuh diri. Pada 1992, usai mencatatkan rekor sebagai band grunge pertama yang tampil di siaran segera televisi nasional dan mendepak Michael Jackson dari puncak tangga lagu Billboard, Cobain mencoba mengakhiri hidupnya bersama langkah mengonsumsi obat-obatan melebihi dosis aman; dia mengalami overdosis. Beruntung, Courtney Love sukses menyelamatkan nyawanya.

Beberapa minggu sebelum tewas, awal Maret 1994, Cobain laksanakan perihal mirip pas tur konser di Roma, Italia. Dia sempat koma selama 20 jam dan dirawat selama 3 hari di tempat tinggal sakit di Roma.

Sisa jadwal tur Nirvana di Eropa pun dibatalkan. Cobain setuju masuk pusat rehabilitasi, namun kabur dan pada akhirnya ditemukan tewas oleh tukang listrik di rumahnya.

Klimaks hidup musisi yang kerap disebut sebagai juru berbicara Generasi X ini berhulu terhadap masa kecilnya yang suram, keluarga yang berantakan, serta kecanduan obat-obatan sejak remaja.

Selain itu, Cobain mewarisi “gen bunuh diri”. Dia menentukan jalan yang diambil alih kakek buyut dan dua pamannya. Dia terhitung berhimpun bersama kumpulan elite “Club 27” bersama Jimi Hendrix, Janis Joplin, dan Jim Morrison, yang seluruhnya tewas secara tidak wajar terhadap usia 27 tahun.

Kendati demikian, teori konspirasi soal pembunuhan Cobain sampai kini masih banyak dipercaya. Dunia maya kian memperpanjang daur hidup cerita itu. Banyak pecinta Nirvana tidak mampu terima idola mereka mengakhiri hidup bersama langkah tragis.

Namun, layaknya dikatakan Cross di dalam majalah Q, “segala tingkah laku yang berujung terhadap akhir hidup Kurt—penggunaan narkoba, mengisolasi diri, dan bunuh diri—akhirnya cuma mampu disalahkan terhadap satu orang, dan sedihnya orang itu adalah Kurt Cobain”.