• Maret 18, 2024

Pengajaran Bukan (hanya) Sekolah – Refleksi Hari Pengajaran Nasional

Hari ini tanggal 2 Mei umum diperingati sebagai Hardiknas, Hari Pengajaran Nasional. Dikala kita bicara Pengajaran, maka yang terlintas di benak kita yakni sekolah. Lalu terbayang bangunan sekolah SD, SMP, SMA, SMK dan Perguruan Tinggi, guru-guru dan kurikulum di dalamnya. Selanjutnya terbayang carut marutnya pengajaran kita saat ini dan walhasil kita malas memikirkannya.

Bayangan seperti itu tentu tak salah. Sebab kata top of mind dari pengajaran umumnya yang muncul yakni kata sekolah. Tapi menganggap sekolah yakni pengajaran atau pengajaran hanya sekolah, itu keliru besar. Sekolah yakni pengajaran formal. Masih ada pengajaran non-formal dan informal. Pengajaran non-formal seperti kursus-kursus atau sekolah tak berijazah, nasihat belajar dan sebagainya tak hendak saya bahas di sini. Aku berkeinginan membahas pengajaran informal, yang menurut saya yakni porsi penting dalam dunia pengajaran kita saat ini, namun kerap terabaikan.

Tipe pengajaran informal slot mahjong khususnya yakni pengajaran dalam keluarga. Ayah yakni kepala sekolah yang bertanggung jawab terhadap pengajaran keluarga. Sebab, Allah sudah memberikan peringatan bagi para kaum ayah, \\”Wahai orang-orang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…\\” (QS at-Tahrim: 6). Ali bin Abi Thalib menafsirkan ayat ini, \\”Jagalah keluargamu dari api neraka artinya addabahum wa allimhum. Didiklah mereka dengan etika (etika, sopan santun, etika, budi pekerti) dan ajarkanlah ilmu terhadap mereka.\\” Karenanya, tugas mendidik buah hati yang utama yakni orang tua, khususnya ayah. Bukan sekolah, bukan guru.

Menjadi sosok ayah pendidik di masa \\”lockdown\\” saat ini sungguh terasa efektif. Kita dapat memandang detail perilaku buah hati-buah hati kita, bagus fisik, perkataan ataupun tingkah lakunya. Aku malah baru menyadari buah hati remaja saya jerawatan. Kita berinteraksi 24 jam bersama mereka, membersamai mereka, mendidik dan mencetak mereka menjadi orang bagus (a good man) seperti yang kita inginkan.

Dikala sholat jamaah di rumah, kita dapat menjadi figur sebagai seorang imam yang bagus, gerakan ataupun bacaan shalatnya. Sekiranya buah hati sudah dewasa maka dapat gantian menjadi imam. Selain memastikan gerakan dan bacaan sholat mereka benar, kita juga dapat memeriksa hafalan surat buah hati-buah hati. Setelah sholat kita dapat adakan kultum dengan -misal membaca salah satu kitab hadits atau tazkiyatun nafs. Di situ kita dapat mengajarkan, memberikan skor (value), memberi arahan malah sampai mengindoktrinasi terhadap buah hati. Dan saat di luar jam sholat kita praktekkan terus ada yang khilaf, seluruh saling mengingatkan dan meluruskan karena sudah dibaca bersama-sama hadits atau perkataan ulama. Tapi kewajiban meluruskan kekeliruan ada pada diri ayah.

Bagian tersulit dari pengajaran di keluarga -dan ini yakni -yang paling efektif, menjadi figur bagi buah hati. Hati akan memandang dan memperhatika apakah yang dikatakan sang ayah cocok atau tak dengan kelakuannya. Perilaku kita juga diamati oleh buah hati untuk dibuat role figur. Sekiranya tak tak bagus ya seperti itulah nanti buah hati-buah hati kita. Segala yang sudah kita ajarkan, berlakukan dan penegakan regulasi (law enforcement) akan sia-sia jikalau orang tua, khususnya ayah, tak dapat memberikan keteladanan. Tapi jikalau dapat menjadi figur, akan mensupport keberhasilan mendidik buah hati lebih efektif. Teladan yang keliru, saat masuk waktu adzan, sang ayah teriak, \\”Ayo buah hati-buah hati ambil air wudhu terus sholat ya. Nanti Bapak nyusul, sedang sibuk kerja nih….\\” Dalam hati sang buah hati pasti akan bertanya-tanya ayahnya serius atau tak dalam menyuruhnya sholat. Pantasnya, waktu adzan tiba, ayahnya sudah wudhu, gelar sajadah dan memanggil buah hati-anaknya sholat. Ia sudah berdiri di atas sajadah sehingga tinggal menyuruh salah satu anaknya, \\”Qomat!\\”