• Maret 21, 2024

Ketimpangan Pengajaran di Pelosok Indonesia, Apa Peran Kita?

Pengajaran di pelosok Indonesia masih menjadi sorotan tersendiri. Pasalnya dikala daerah lain mengalami pertumbuhan pendidikan yang pesat, daerah pelosok banyak yang masih tertinggal. Padahal pada dasarnya segala warga negara mempunyai hak menerima pendidikan yang layak.

Jikalau mengacu pada agama Islam, tujuan pendidikan adalah untuk menasihati generasi sampai memiliki kepribadian islami. Dengan demikian diperlukan pelbagai fasilitas untuk menstimulasi fungsi akal.

Nalar memang memiliki peran utama, namun fasilitas penyokong konsisten diperlukan. Dikala akal telah memiliki pola pikir, karenanya akan menjadikan perilaku. Dari perilaku menjadi adat istiadat dan hasilnya menjadi karakter yang membentuk sebuah kepribadian.

Berjenis-jenis daerah pelosok slot mahjong di Indonesia memiliki sumber energi manusia yang kompeten sebagai aset bangsa. Namun, fasilitas yang tersedia masih minim dan kekurangan. Hal inilah yang membikin sumber energi hal yang demikian tak akan terasah dengan optimal.

Potret Pengajaran di Pelosok Indonesia
Indonesia adalah negara kaya raya. Kecuali memiliki sumber energi alam yang melimpah, sumber energi manusianya lebih dari cukup. Dengan demikian dikala manusianya ditempa dengan pendidikan yang baik, tentu sumber energi alam bisa dikelola dengan baik pula.

Sayangnya aset terbesar bangsa itu sampai sekarang masih banyak yang belum tersentuh. Pengajaran yang diperoleh terkesan minimalis malahan kekurangan.

Untuk memaksimalkan pendidikan di daerah hal yang demikian tidaklah sepatutnya menunggu pemerintah. Justru dengan kepedulian pada sesama, siapapun bisa mengulurkan tangan. Dikala itulah orang yang peduli bisa ikut serta berkontribusi pada bangsa serta memiliki tabungan akhirat.

Tempat Indonesia yang pendidikannya masih tertinggal rata-rata adalah daerah terluar. Kecuali banyak ditemukan di daerah timur Indonesia, daerah luar yang lain juga bernasib sama. Potret pendidikan pelosok negeri pernah menjadi bahasan tersendiri oleh Kominfo.

Contoh daerah yang masih tertinggal pendidikannya adalah daerah Aceh. Di daerah seperti Pulau Nasi, Rinon, Lapeng, Ulee Paya bisa dikatakan susah menjangkau sekolah. Padahal sekolah dari SD sampai SMP telah ada di Aceh Besar namun jenjang SMA masih amat susah.

Tempat pendidikan yang ada malahan masih amat sederhana. Para murid belajar dengan fasilitas sekadarnya. Pun para guru enggan untuk menetap di daerah mereka mengajar karena minimnya fasilitas.

Sampai dikala ini daerah pelosok masih susah memperoleh perhatian dari Pemerintah Sentra. Sebagai sesama putra bangsa, fenomena semacam ini selayaknya mengetuk hati. Perhatian pada sesama putra bangsa akan menumbuhkan keinginan yang berarti.

Karena Minimnya Pengajaran di Pelosok Indonesia
Tempat pelosok susah memaksimalkan pendidikan tentu disebabkan banyak faktor. Berikut adalah sebagian faktor penyebabnya:

  1. Akses
    Dilema akses menjadi karena utama sebuah daerah berkembang. Tak cuma urusan pendidikan saja, namun juga pada sektor yang lain. Dikala sebuah daerah memiliki akses yang mudah, keperluan untuk membangun mudah untuk tersalurkan.

Kecuali itu sumber energi manusia bisa datang dengan mudah. Rata-rata para SDM mumpuni tak bertahan di suatu daerah disebabkan sulitnya akses. Dengan demikian jikalau akses diperbaiki karenanya memaksimalkan sebuah daerah kian mudah, termasuk pada pendidikan.

  1. Minim Guru
    Kondisi pendidikan di daerah terpencil tak mengalami perkembangan diantaranya karena minim guru. Guru adalah sosok yang memiliki peran penting. Guru yang memiliki inisiatif, kecuali berusaha mengangkat kwalitas muridnya juga peduli pada lingkungannya.

Jikalau guru yang dimiliki jumlahnya terbatas, tentu fungsi hal yang demikian susah tercapai. Terpenting nasib para guru malahan tak bisa dikatakan baik-baik saja. Kecuali bobot tugas yang terlampau besar, kesejahteraan mereka malahan bisa dikatakan belum optimal.

  1. Fasilitas Tak Cocok
    Fasilitas cukup berdampak dalam dunia pendidikan. Padahal bukanlah hal utama, dengan fasilitas memadai akan memberikan dorongan motivasi pada peserta ajar. Dengan motivasi hal yang demikian pendidikan yang diselenggarakan kian mudah menjadikan SDM yang baik.

Nah, salah satu permasalahan pendidikan daerah pelosok Indonesia adalah banyaknya sekolah yang belum memiliki fasilitas memadai. Misalnya saja, kurangnya kelas, keadaan gedung dan kelas yang mengkhawatirkan dan lain-lain. Dikala pendidikan di kota telah memiliki lab, masih ada pelajar di pelosok yang belajar beralaskan tanah.

  1. Tingkat Ekonomi Rendah
    Ekonomi menjadi karena tersendiri yang berdampak pada pendidikan. Bukan tak memiliki minat untuk belajar, namun keadaan ekonomi seringkali menjadi penghambat. Ketimbang menghabiskan waktu untuk belajar yang dievaluasi lama menjadikan uang, banyak SDM yang memilih berprofesi. Padahal usia mereka masih produktif untuk belajar.

Banyak diantaranya yang tak bisa membayar tarif pendidikan. Untuk memenuhi keperluan sehari-hari saja masih kesusahan. Jikalau telah seperti ini, pendidikan telah tak seperti itu penting bagi mereka.

  1. Pola Pikir
    Adat hidup yang dijalani bersama masyarakat menumbuhkan pola pikir tersendiri. Jikalau interaksi yang terjadi sesama orang yang tak berpendidikan, tentu pentingnya pendidikan menjadi melarikan diri.

Fenomena seperti ini bukanlah kesalahan. Jikalau ada keseriusan, karenanya pola pikir demikian bisa dirubah. Tentu dengan mengirimkan orang yang istiqomah mengajak terhadap perubahan menuju hidup lebih baik.