• Juni 6, 2024

Kebiasaan Untuk Menulis di Buku Alasan Bagus Untuk Otak Kita

Orang-orang ketika ini telah kehilangan manfaat dari terapi menulis sesudah mereka meninggalkan budaya menulis di buku.

Dahulu tiap orang telah terbiasa dengan menulis sesuatu dengan pena dan buku. Ketika itulah mereka untuk bermacam-macam kepentingan untuk orang terdekat, keluarga, guru dan rekan bisnisnya awam dengan surat menyurat. Bahkan untuk sesuatu yang penting malahan mereka awam menuliskannya pada sebuah diary.

Namun dengan berjalannya waktu, memang menulis dengan pena dan buku ini dianggap cukup merepotkan dan menyita waktu, sebab budaya kita ketika ini adalah tidak terlepas dari keyboard, semisal di telpon seluler atau laptop atau komputer. Walaupun bila diselidiki labih dalam ada banyak manfaat yang didapatkan ketika kita masih membiasakan diri menulis di buku.

Para psikolog telah lama memahami bahwa artikel pribadi yang berfokus pada emosional dapat menolong orang mengenali dan menyesuaikan slot depo 5k qris diri dengan perasaan mereka.

Semenjak 1980-an, penelitian telah menemukan bahwa “penyembuhan menulis,” yang umumnya melibatkan penulisan perasaan seseorang tiap hari selama 15 hingga 30 menit, dapat mengarah pada manfaat kesehatan jasmani dan mental yang terukur. Manfaat-manfaat ini meliputi semuanya, mulai dari stres yang lebih rendah dan gejala depresi yang lebih sedikit hingga fungsi kekebalan yang lebih baik. Dan ada bukti bahwa artikel tangan mungkin lebih baik memfasilitasi wujud terapi ini daripada mengetik.

Sebuah studi 1999 yang kerap dikutip dalam Journal of Traumatic Stress menemukan bahwa menulis seputar pengalaman hidup yang penuh tekanan dengan tangan, sebagai ganti dari mengetik seputar hal itu, menyebabkan tingkat pengungkapan diri yang lebih tinggi dan diterjemahkan ke manfaat terapeutik yang lebih besar. Ada kemungkinan bahwa temuan ini mungkin tidak bertahan di antara orang-orang ketika ini, banyak dari mereka tumbuh dengan komputer dan lebih terbiasa mengekspresikan diri lewat teks yang diketik. Namun para ahli yang mempelajari artikel tangan mengatakan ada alasan untuk percaya ada sesuatu yang hilang ketika orang meninggalkan pena dan menggantinya dengan keyboard.