• November 25, 2023
Harry Potter and the Cursed Child

Harry Potter and the Cursed Child: Kisah Sembilan Belas Tahun Kemudian

“Bekas luka (berbentuk sambaran https://www.ligamalaysia.net/ kilat di dahi) itu tidak dulu sebabkan Harry sakit ulang sepanjang sembilan belas tahun. Segalanya baik-baik saja.”

Begitulah pas J.K. Rowling menutup kisah Harry Potter di buku ketujuh. Majalah Entertainment Weekly edisi 3 Agustus 2007 menulis, Rowling menutup kisah Harry Potter bersama dengan elegan. Ia tak menutup cerita bersama dengan kematian tokoh utamanya.

Cara ini persis penutup sebuah dongeng, “Dan mereka hidup suka selamanya.”

Masalahnya, saat kami begitu mencintai sebuah dongeng atau cerita, akhir yang membahagiakan saja tak cukup. Ibarat menunggu kabar saudara yang tinggal jauh di seberang pulau, kami mengidamkan mendengar cerita paling baru mereka, tokoh-tokoh rekaan yang kami sayang. Tak terkecuali Harry Potter, Hermione, dan Ron rekaan J.K. Rowling.

Itu sebabnya sebuah film sukses dibuat sekuelnya sampai pemirsa bosan dan tak pikirkan lagi. Maka, saat cerita Harry Potter berlanjut dalam wujud pertunjukan teater berjudul Harry Potter and the Cursed Child pada pertengahan 2016 silam di London, Inggris, seluruh orang bertanya: bagaimana kabar Harry dkk setelah kami terakhir bersua mereka di epilog buku ketujuh yang terbit pertama kali sebelas tahun lalu?

Dari pemberitaan media pas itu kami sadar sedikit banyak kisahnya seputar petualangan anak kedua Harry, Albus. Kamu kemungkinan juga masih ingat pemberitaan pas itu ramai oleh sifat Hermione dewasa yang dimainkan aktris kelahiran Afrika Selatan, Noma Dumezweni.

Di luar itu, kami di Indonesia cuma dapat gigit jari sebab pertunjukan teaternya tak kunjung berkunjung ke sini. Hingga pas ini, versi teater Harry Potter and the Cursed Child baru dipentaskan di Inggris dan AS, dan juga dapat mentas di Australia dan Jerman.

Baca juga:

Rekomendasi Novel Tere Liye Terbaik!

Review Buku Rich Dad Poor Dad

Cerita Buku Kedelapan

Yang mengidamkan diketahui pertama kali tentu saja kabar perihal karakter-karakter favorit kita. Harry Potter setelah menikah bersama dengan Ginny Weasley, adik Ron, punya tiga anak yakni James, Albus dan Lily.

Harry bekerja di Kementerian Sihir sebagai Kepala Departemen Pelaksanaan Hukum Sihir. Hermione jadi Menteri Sihir dan bersuamikan Ron yang kini mengelola toko lelucon. Mereka punya anak bernama Rose. Musuh bebuyutan Harry di sekolah sihir Hogwarts, Draco Malfoy punya anak bernama Scorpius.

Yang mengidamkan diketahui selanjutnya adalah ceritanya. Naskah drama ini melanjutkan cerita di buku ketujuh. Fokus utamanya adalah Albus dan Scorpius. Jeniusnya naskahnya, ia memberi kami petualangan baru sekaligus menyuguhkan suatu hal yang menjadi akrab bagi fans Harry Potter.

*SPOILER ALERT! Bagi yang tak mengidamkan sadar isikan buku Harry Potter and the Cursed Child boleh melompat lima paragraf berikut.

Ceritanya menawarkan pertanyaan-pertanyaan menggelitik: bagaimana rasanya jadi anak Harry Potter yang populer seantero jagat sihir? Bagaimana seumpama anak Harry Potter masuk asrama Slytherin dan bukan Gryffindor?

Bagaimana seumpama anak Harry Potter bersahabat bersama dengan anak Draco Malfoy? Bagaimana seumpama Harry Potter merasakan bekas luka di dahinya sakit lagi? Apakah itu tandanya Voldemort dengan sebutan lain Pangeran Kegelapan atau pengikutnya bangkit lagi?

Tidak cuma itu, ceritanya juga menawarkan sebuah jagat yang lain (alternative universe) yakni, bagaimana seumpama Cedric Diggory tak tewas dalam Turnamen Triwizard?

Bagaimana seumpama Harry Potter tewas dalam Pertempuran Hogwarts dan Voldemort yang berkuasa? Apa yang berlangsung seumpama Voldemort tak membunuh orangtua Harry Potter? Atau pertanyaan yang lebih out of the box, bagaimana seumpama Voldemort ternyata punya keturunan?

Wah, ini melahirkan pertanyaan lanjutan, siapa yang hamil anak Voldemort? Dan kira-kira, seperti apa sosok anaknya?

*Bocoran cerita berakhir di sini.

Semua pertanyaan-pertanyaan itu terjawab di cerita Harry Potter and the Cursed Child. Penggemar Harry Potter terpecah dua menanggapi cerita kedelapan ini. Yang tak setuju cerita Harry Potter berlanjut setelah buku ketujuh beranggap The Cursed Child tak ubahnya fan fiction dengan sebutan lain cerita bikinan fans, bukan anggota berasal dari cerita kanon.

Meski tak ditulis Rowling seorang, namun dilakukan bersama dengan penulis drama Jack Thorne dan sutradara John Tiffany, faktanya cerita ini diamini Rowling. Jadi pembicaraan kanon dan bukan kanon tak relevan lagi. Inilah cerita sambungan Harry Potter setelah buku ketujuh. Titik.

Sama Asyikkah bersama dengan Novelnya?

Yang menarik dibincangkan memang adalah format bukunya. Buku kesatu sampai ketujuh adalah novel, yang kedelapan adalah naskah drama. Novel ditulis untuk membangkitkan imajinasi di benak pembaca. Di lain pihak, yang niatan utama naskah drama, tentu saja, sebagai panduan dialog para pemeran di sebuah pementasan teater.

Yang sebabkan kisah Harry Potter dapat dikenang sepanjang era tidak benar satunya adalah begitu meyakinkannya Rowling menuliskan keberadaan dunia sihir yang hidup bersisian bersama dengan dunia non-sihir. Deskripsi sekolah Hogwarts, bank sihir Gringotts sampai Diagon Alley digambarkannya sangat baik.

Ia juga mencipta karakter-karakter yang tetap hidup di benak pembacanya. Tidak cuma Harry, Ron, dan Hermione namun juga Severus Snape yang punya era selanjutnya tragis bersama dengan orangtua Harry, Dumbledore yang bijak, Hagrid yang lugu sampai Neville Longbottom yang kikuk namun pemberani.

Yang jadi bertanya lalu, bisakah kelebihan itu termuat dalam sebuah naskah drama? Seperti film, bukankah fungsi teater memvisualisasikan apa yang terdapat di kertas jadi tontonan mata dan telinga?

Meski sempat sangsi apakah nantinya dapat terlarut seperti membaca novelnya, namun kesangsian itu segera sirna sejak terhubung halaman pertama di mana adegan berlangsung di stasiun kereta api King’s Cross menuju peron Sembilan Tiga Perempat area Hogwarts Express berangkat.

Deskripsi singkat di sana lumayan membantu, baik bagi pembaca yang udah akrab bersama dengan kisah Harry Potter maupun pembaca baru.

Berbeda bersama dengan naskah skenario film yang dibukukan, naskah drama tak diganggu istilah-istilah pergantian angle atau pergantian adegan macam INT. (interior), EXT. (exterior), CUT TO, DISSOLVE TO, FADE IN, FADE OUT dan macam-macam lagi.

Dan seumpama anda menyimak buku kelima sampai ketujuh Harry Potter, Rowling tak banyak ulang menggunakan tinta untuk membatasi ulang tempat-tempat yang udah diakrabi pembacanya.

Selain itu pula, sejak Voldemort bangkit di akhir buku keempat, irama cerita Harry Potter begitu bergegas, penuh aksi, lebih sedikit uraian dan banyak menampung pertukaran dialog antar-tokoh. Mirip naskah drama.

Selain itu, meski tak nonton pementasan teaternya langsung, pembaca Harry Potter pastilah udah nonton juga versi filmnya dan sedikit-banyak menyimpan memori visual bagaimana wujud Harry dkk dan juga Hogwarts dan seterusnya berasal dari film-film tersebut.